SSB MATTOANGING

Selasa, 12 Januari 2010

Menegpora Bukanlah Optimus Prime, lho

Suka nonton film sains fiksi, Transformer? Ya, film itu tergolong sukses berat. Pendapatan kotor Transformer 1 pada tahun 2007 mencapai US$ 708 juta (Rp 6,8 triliun).
Adalah Michael Bay, sang sutradara, yang kecipratan fulus tak kurang dari US$ 75 juta (Rp 720 miliar)! Pendapatan Bay akan terus bertambah sebab film keduanya, Transformer II: Revenge of the Fallen, masih terus beredar dan bakal mengundang penonton datang, baik ke studio layar lebar, maupun pembelian DVD.
Perusahaan mobil General Motors (GM) memiliki penciuman hebat film Transformer 1. Maka mereka melakukan cross promotional advertising. Tak kurang dari 65 mobil wah disiapkan General Motors untuk mendapatkan benefit. Seperti dicatat Associated Press, GM melakukan itu sebelum tahun 2007.
Penciuman tajam GM tak sebanding dengan makin tingginya biaya operasional GM. Resesi dunia yang mengguncang AS, membuat GM pun ambruk. Harapan mengeduk untung dari cross promotional program dengan film Transformer pun jauh panggang dari api. Tokoh utama Optimus Prime akan semakin maksimum mengeduk untung untuk si pembuat film.
Rabu (21/10) ini, nama penanggung jawab olah raga Indonesia akan diumumkan sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah raga (Menegpora). Banyak nama yang beredar namun Andi Alfian Mallarangeng, Ph.D. hampir pasti akan menjadi yang terpilih. Selamat bang Andi, welcome to the jungle.
Olah raga Indonesia adalah hutan yang tak berujung. Perlu keberanian memetakan dimana ujung, dimana pangkal, sehingga bisa diukur luasnya hutan olah raga Indonesia.

Pendekatan Sosiologi
Untungnya, Bang Andi memiliki latar belakang sebagai sosiolog. Sebagai pakar sosiologi, itu dicerminkan dari gelar S1 dan S2, saya yakin ia akan melakukan pendekatan sosiologi terhadap hutan olah raga Indonesia. Gelar S1 dari UGM dan Master of Science dalam bidang Sosiologi dari Northern Illinois University, akan ia pakai mengurai berbagai komunitas olah raga di hutan olah raga Indonesia. Ia akan melihat proses sebagai instrumen penting daripada hasil akhir.
Sebab masyarakat olah raga Indonesia itu memiliki berbagai ciri khas. Mereka sangat mudah digerakkan, asal ada contoh yang konkret dan masuk akal. Bang Andi mesti memahami itu sebab sekarang budaya olah raga Indonesia sedang berada di titik nadir. Keluarga-keluarga Indonesia mengizinkan putra-putri berolah raga sebagai kodrat homo ludens, makhluk yang gemar bermain, hanya sebatas beraktivitas fisik. Untuk olah raga prestasi, tunggu dulu! Jadi, buatlah gerakan nyata mengolahragakan masyarakat dalam waktu dekat!
Sebab saat ini olah raga bukanlah favorit di mata orangtua. Lebih menarik menonton tayangan sinetron, musik, dan berita mistis, daripada menonton olah raga. Lagian, tayangan olah raga di TV terestrial sangat sulit ditemukan. Ada sepak bola internasional, namun itu nun jauh di sana.  Bang Andi pasti tahu, sangat berbeda sosiologi masyarakat Eropa sana dengan Indonesia. Kalau pun ada sepak bola Indonesia, jarang sekali yang bersih dan bermutu dibandingan Premier League, La Liga, maupun Serie A.
Jadi, masyarakat harus diyakinkan lagi bahwa olah raga adalah lapangan pekerjaan yang menjanjikan, yang sama pentingnya dengan menjadi penyanyi atau bintang sinetron.

Olah Raga adalah Proses
Olah raga adalah proses. Tak ada hasil instan dalam olah raga. Karena sebuah proses, tentu saja diperlukan bibit atlet. Darimana atlet dihasilkan? Selain dari keluarga Indonesia, juga dari sekolah-sekolah. Pengalaman sekolah di Illinois pasti sudah ada di mindset bang Andi. AS tak pernah kekurangan bibit atlet kerena mereka konsisten mengembangkan kegiatan intramural dan extramural di sekolah, mulai dari dasar sampai perguruan tinggi.
Di Indonesia, olah raga hanya menjadi bagian kecil dari proses belajar mengajar. Cuma 2 jam sepekan. Itu pun kadang-kadang diberikan oleh guru non pendidikan jasmani (penjas). Berapa banyak sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang memiliki pembinaan berjenjang di olah raga? Hampir nihil, bang!
Ada memang sekolah atlet Ragunan, yang pernah memiliki nama besar. Kalau ingin melihat cermin asli sekolah olah raga itu, lakukan sidak dan menginap di sana barang 2 malam. Anda pasti akan merasakan betapa muramnya potret olah raga di level sekolah.
Itu di level grass root. Di tingkat organisasi, ada rivalitas antara KONI dengan lembaga Menegpora di masa Menegpora Adhyaksa Dault. Namun karena mengaku punya budaya Timur, rivalitas itu mereka bungkus sedemikian rupa sehingga tak terlalu nampak. Namun, insan olah raga bisa merasakan betapa tidak kompaknya dua lembaga yang sebenarnya sama-sama penting untuk kemajuan olah raga Indonesia.

Satu lagi bang Andi. Pendekatan sports science kita tertinggal dengan negara-negara Asia Tenggara yang memang concern pada olah raga. Problemnya adalah dana. Dana untuk olah raga Indonesia masih kecil. Sudah dana kecil, ketergantungan induk-induk organisasi, yang jumlahnya di KON/KOI berjibun itu, sangat besar. Mereka juga kebingungan memanajemen olah raga Indonesia sebab memang management approach untuk induk organisasi belum seragam. Mencari tenaga olah raga yang well educated, well management, dan punya kompetensi, masih sangat sulit di Tanah Air tercinta.
Untunglah pendidikan tertinggi Bang Andi berlatar belakang ilmu politik. Itu akan memudahkan Menegpora menjalin kerjasama lintas bidang dengan lembaga negara/kementrian yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan olah raga. Kerjasama itulah yang sebenarnya menjadi key success factor negara-negara besar seperti Cina dan Korsel di Asia, atau Thailand, Vietnam, dan Malaysia di kawasan jiran.
Jika Menegpora dikonotasikan Optimus Prime, perjuangannya menegakkan keadilan dan membantu warga bumi dari ancaman Megatron dan antek-antek Deception lainnya, jelas tak bisa berhasil tanpa bantuan pihak lain. Sebutlah Bumblebee – yang warna kuningnya dipakai Rafael Nadal di US Open.
Ya, Menegpora baru harus dibantu. Tentunya dibantu dengan ide-ide dan masukan jernih dari hati yang putih. Selamat berjuang, bang Andi! eko@bolanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskanlah kata-katamu sendiri, sesukamu...kawan...

sang juara

ARTIKEL (10) KaBar (3) KB (2) KICK OFF (6) OFF-side (2) Teknik Sepak Bola (3)

Arsip Blog